Banyak orang yang menyatakan bahwa dirinya berjuang atas nama rakyat Indonesia. Ada yang mencontohkan dengan berkunjung ketempat-tempat yang memiliki hubungan dengan perjuangan kemerdekaan. Ada pula yang menyatakan dirinya sebagai bagian dari petani....
Percayalah, semua itu hanyalah sekedar omong kosong belaka. Kenapa sampai saat ini secara primordial, suku-suku dibelahan Negara Indonesia masih memikirkan untuk merdeka dan independent diluar kedaulatan Indonesia? Jawabannya hanya satu, karena sampai hari ini pemimpin bangsa ini hanya mampu berkoar-koar masalah kesejahteraan bersama tanpa pernah memikirkan solusi yang harus dicapai.
Bagaimana mungkin orang bisa mencari solusi tanpa menemukan masalahnya terlebih dahulu?. Dan apakah mungkin seseorang dapat terus-menerus terjebak pada inti permasalahan yang sama. Ibarat seekor keledai yang selalu jatuh pada lobang yang sama?.
Bagaimana mungkin pemimpin bangsa ini mengeluarkan kebijakan kenaikan BBM setelah berjanji tidak akan menaikannya lagi. Semakin bodoh lagi dengan melihat kenyataan bahwasanya Negara ini adalah salah satu Negara penghasil minyak terbanyak didunia. Alangkah konyolnya. Setelah dicengkeram wilayahnya, dikangkangi pula alamnya sampai tidak berbentuk.
Semakin konyol lagi apabila kita melihat bagaimana pemerintah tempo hari memberikan peringkat kepada beberapa perusahaan besar yang berhubungan dengan alam di negeri ini. Sebut saja perusahaan yang terkenal sebagai “penghasil lumpur”, mendapatkan label aman, yang menandakan bahwa perusahaannya ramah lingkungan.
Bagaimana bisa bangsa ini maju apabila pemimpinnya terlalu “bodoh” dalam mengeluarkan kebijakan.
Berkaca pada masalah Indonesia saat ini. Salah satu masalahnya adalah terlalu lemahnya pemerintah Indonesia dalam menentukan sikap terhadap bangsa asing yang ingin menancapkan taringnya. Pemerintah saat ini masih terlalu sibuk menyelesaikan problema moral kebangsaan.
Apabila kita ingin mengkaji lebih lanjut, kenapa sampai terjadi problema moral kebangsaan tersebut?. Maka salah satu penyebabnya adalah karena tidak majunya pendidikan dinegeri ini. Ditambah lagi dengan kurangnya daya pikir para pemimpin tersebut untuk memikirkan hal itu.
Kenapa daya pikir para pemimpin bangsa ini kian menurun?. Tentu saja jawabannya bukan karena tingkat pendidikannya rendah, atau justru kurangnya pengetahuan mereka?. Salah satu jawabannya adalah, karena mereka tidak lagi percaya diri dan tidak sanggup memikirkan kenapa daya pikir mereka kian menurun, hingga akhirnya mereka meminta bantuan dari pihak asing dalam menentukan kebijakan-kebijakan internalnya.
How Could Be so Stupid Like That?? Just Think About It..
PS:
Kenapa dari tadi saya menyebutkan ”salah satu” dalam penyebab masalahnya. Karena saya tidak mau para pemimpin bangsa ini menjadi manja dalam berpikir. Hingga akhirnya berujung pada kebuntuan dan krisis kepercayaan diri layaknya anak-anak remaja zaman sekarang. Semoaga mereka yang merasa memimpin, atau mencoba menjadi pemimpin mau membaca tulisan ini……
Woro Woro Wara Wiri
Ingatlah..
Untuk Tetap Selalu Golput..!!
Mulai Hari Ini Sama-Sama Kita Nyatakan..
"Kita Memilih Untuk Tidak Memilih di PEMILU 2009"
Jangan Pernah Mau Dipimpin Oleh Rezim yang Selalu Mengangkang Pada Modal Asing..!!!!!!
-do not be the slave in our motherland-
lets kick our stupid bureaucration..!!
change them with people solidarity to our liberation..!!
-SaLaM-
Friday, August 22, 2008
Bagimu Yang Merasa Memimpin, Atau Yang Ingin Menjadi Pemimpin
Potret “Wagu” Kemerdekaan Indonesia
Genap sudah 63 tahun Indonesia memperoleh kemerdekaannya. Tetapi apakah Indonesia benar-benar telah merdeka? Ataukah justru orang-orang yang memimpin pada saat itu hanya berusaha untuk mengisi kekosongan yang terjadi paska kepergian jepang?.
Banyak asumsi yang terjadi seputar kemerdekaan Indonesia pada masa dulu sampai pada saat ini. Kenapa setelah tiga setengah abad Indonesia baru memutuskan untuk merdeka?. Lalu kenapa pula nasib Indonesia tidak lebih baik dari bangsa-bangsa jajahan lainnya?.
Banyak hal yang kemudian menjadi pertanyaan yang kemudian bermunculan secara bertubi-tubi. Terutama paska dirgahayu Indonesia yang ke-63 ini. Dengan pemahaman dimasyarakat secara meluas bahwasanya Indonesia telah merdeka selama ini. Sekali lagi pemahaman itu adalah SALAH.
Bagaimana mungkin dengan kondisi yang sedemikian buruk, Indonesia dapat dinyatakan telah merdeka?. Dengan kenyataan bahwa 39 juta rakyat Indonesia masih berstatus sebagai rakyat miskin. Kemudian ditambah lagi dengan fakta bahwa 11,1 rakyat Indonesia masih mencoba untuk mencari pekerjaan alias menganggur. Dengan kondisi yang sedemikian rupa, masih pantaskah apabila Indonesia mengaku sebagai sebuah Negara yang merdeka?.
Belum cukup sampai disana, setengah dari wilayah sumber daya alam di Indonesia telah diduduki oleh bangsa asing tanpa pernah diberi ampun. Daerah tersebut terus-menerus dikeruk sampai benar-benar tergerus. Bagaimana pula dengan tingkat pendidikannya? Masih banyak anak-anak Indonesia yang belum mendapatkan haknya dalam dunia pendidikan sebagaimana diutarakan didalam UUD. Alangkah menjemukannya Negara ini sebenarnya.
Bagaimana mungkin dengan kenyataan tersebut pada setiap tanggal 17 agustus kita bisa merayakan kemerdekaan? Padahal masih banyak orang-orang yang belum mendapatkan hak-haknya sebagai warga Negara. Ditambah lagi dengan banyaknya kebijakan-kebijakan yang tidak pernah sesuai dengan kebutuhan rakyatnya. Kebijakan-kebijakan yang justru malah menjadi beban terhadap kondisi rakyat hari ini.
Indonesia saat ini masih menjadi bangsa pengemis. Masih menjadi bangsa yang selalu berpikir bahwa mengutang itu lebih baik. Kalau kita telaah lebih lanjut, siapa kemudian yang akan membayar hutang tersebut? Tak lain dan tak bukan, rakyat yang menjadi bagian dari bangsa ini jugalah yang akan membayar hutang-hutang tersebut!.
Adakah terpikir dalam benak-benak mereka yang selalu berteriak dalam panggung-panggung kampanye. Saat mereka berlomba-lomba menyatakan membela rakyat, tapi apa yang terjadi? Mereka justru berusaha untuk memasukkan investasi asing sebanyak-banyaknya kedalam perut Indonesia. Mereka jugalah yang kemudian menginjak-injak harga diri bangsa Indonesia.
Apakah bangsa Indonesia hari ini masih berdaulat atas tanah airnya sendiri? Sebuah hal besar yang harus kembali dipertanyakan pada diri masing-masing. Entah ia sebagai pemimpin, ataupun sebagai bagian integral dari bangsa ini.
Sajak Penutup Cerita
Dahulu mereka menyebut Indonesia sebagai macan asia. Layaknya seekor macan yang apabila mengaum terkejutlah seluruk jagat semesta. Tapi kini, Indonesia untuk disebut sebagai kambing asia pun tak layak. Karena bila ia mengembik, telinganya sendiripun tak pernah mampu untuk mendengarnya.
Monday, August 4, 2008
1, 2, dan 3
satu...
mencari
dua...
terlantar
tiga...
sudahlah
satu dua tiga...
akhirnya tersesat
Sunday, June 15, 2008
Sugesti Buat Rakyat Cerdas
Mari kita sama-sama memilih untuk tidak "MEMILIH" pada PEMILU 2009
TOLAK PEMILIHAN UMUM..
jangan mau dipimpin oleh rezim yang selalu MENGANGKANG pada modal asing..
Monas Beradarah dan Kebohongan lainnya

Tragedi monas berdarah 1 juni telah menjadi sebuah pembuktian bagaimana 'sebagian” dari masyarakat indonesia belum bisa menerima adanya perbedaan dalam khazanah masyarakat indonesia. Banyak pertanyaan seputar tragedi monas berdarah. Apakah memang “sebagian” masyarakat indonesia belum bisa memahami arti pluralitas, ataukah justru tragedi monas berdarah 1 juni 2008 merupakan bentuk pengalihan isyu politik yang dilakukan oleh pemerintah terhadap kebijakan kenaikan harga BBM.
Ada banyak kritikan yang dapat diajukan terhadap pemerintahan SBY-JK apabila dilihat dari segi kebijakannya. Mulai dari bagaimana dikeluarkannya model2 kebijakan yang tidak populis sehingga menimbulkan banyak tanda tanya dikalangan masyarakat. Pertayaan mendasar yang kemudian muncul adalah, apakah pimpinan negaranya yang salah saat dipilih, atau justru memang pimpinan negaranya yang terlalu tolol untuk memahami apa-apa yang menjadi kebutuhan masyarakatnya??.
Dimulai dengan menaikkan harga kenaikan BBM dari 4500 menjadi 6000 rupiah perliter. Adalah sebuah kebijakan yang sebenarnya bagi negara sekelas indonesia yang merupakan salah satu negara penghasil minyak, adalah bentuk kebodohan. Karena tidak akan pernah logis sebuah keputusan untuk menaikkan harga BBM apabila negara tersebut masih mampu untuk menghasilkan BBM. Diperbudak dinegara sendiri, sungguh sebuah lkondisi aneh tapi sangat nyata di indonesia.
Apabila pemerintah kembali menelaah sumber-sumber daya alam yang ada, akan sangat banyak sekali ditemukan sumber daya yang sebenarnya lebih dari cukup. Namun, sayang pemerintah terlalu malas untuk mengolahnya secara mandiri, mereka lebih rela menyerahkan sepetak demi sepetak sumber-sumber daya alam yang ada kepada para investor asing dan menjadikan bangsa sendiri sebagai budak dirumahnya sendiri.
Analisa mengenai kenaikan harga BBM yang dikarenakan naiknya harga minyak dunia sebenarnya dapat diselesaikan jauh-jauh hari sebelumnya. Yaitu dengan cara mempelajari bagaimana teknik pengolahan minyak sekaligus mengambil alih aset-aset bangsa yang dikuasai oleh pihak asing. Dengan begitu bangsa indonesia bisa terlepas dari kecanduan “ngutang” dan “netek” dengan bangsa lain. Sekali lagi sayang, bangsa indonesia saat ini sedang berada dibawah kungkungan rezim “banci” yang bisanya cuma manut apa kata “sikoboi”. Ketololan tersebut semakin diperjelas dengan keputusan untuk keluarnya indonesia dari kelompok negara penjual minyak (OPEC) dengan alasan yang tidak kalah konyolnya yaitu merasa bahwa indonesia bukan lagi negara pengekspor minyak, tetapi sudah menjadi negara pengimpor minyak. Sungguh alasan konyol sempurna.
Tragedi monas 1 juni 2008
Adegan kekerasan yang kembali ditunjukkan oleh segerombolan preman berjubah (FPI) kepada aliansi kebangsaan untuk kebebasan beragama dan berkeyakinan (AKKBB) kembali menunjukkan lemahnya pengawasan pemerintahan rezim “banci” dalam memahami apa yang dibutuhkan oleh rakyatnya. Tercatat 70 orang menjadi mangsa kebrutalan kelompok kombatan berjubah ini. Menyerang manusia lainnya seolah-olah mereka dan ajarannya yang dibawa adalah yang paling benar.
Ada sebuah kekonyolan yang tergambar jelas dalam tragedi tersebut. Pertama, SBY sebagai pimpinan dari rezim “banci” menunjukkan kewibawaannya dengan berteriak-teriak bahwa FPI telah melakukan kekerasan. Benar-benar sebuah tindakan yang lagi-lagi menggambarkan betapa konyolnya pemerintahan negara ini. Apabila FPI telah disadari selalu melakukan kekerasan disetiap aksinya, kenapa mereka tetap eksis sejak berdirinya tahun 2002 sampai hari ini. Ini menunjukkan bahwa pemerintahan rezim “banci” SBY-JK masih memerlukan bantuan kelompok kombatan berjubah ini sebagai pengalih isyu apabila diperlukan.
Bukankah menjadi sebuah pertanyaan tersendiri apabila SBY sampai harus angkat bicara saat naiknya kasus Tragedi Monas berdarah 1 juni 2008 kemedia massa. Padahal, saat sekelompok mahasiswa dan masyarakat melakukan protes besar-besaran guna menolak kenaikan harga BBM, pimpinan rezim “banci” SBY-JK justru dengan tenangnya menikmati adegan penyerangan polisi masuk kampus. Seperti mengulang kembali tragedi makasar.
Alangkah memalukannya saat kita menyadari bahwa negara yang kita yang tempati hari ini tidak lebih seperti sebuah peternakan dimana rakyatnya menjadi hewan-hewan ternak yang harus selalu siap untuk dikebiri dan pimpinannya dengan santainya menjadi gembala yang asik melihat satu persatu hewan-hewannya dikuliti hidup-hidup. Apakah ini yang namanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat? Atau justru sila tersebut hanyalah sebuah pelengkap dasar negara? Padahal untuk mempercayai pancasila hari ini sebagai bagian dari cita-cita bangsa saja sudah merupakan hal yang bodoh.
Kembali kepada dinamika masyarakat dalam menolak kenaikan harga BBM, maraknya usaha untuk menolak kenaikan harga BBM menjadi sebuah kepastian. Namun sekali lagi harus disayangkan, sekali lagi peluru harus menghujam para aktivis yang sedang berorasi meneriakkan tingginya harga BBM yang hampir menyentuh langit. Tak ubahnya kondisi tersebut seperti sekelompok domba-domba ditengah kawanan serigala coklat.
Sangat jauh dari impian, saat seorang pemimpin diharapkan untuk memberi sedikit penjelasan terhadap rakyatnya, ia justru dengan santainya menikmati tontonan “berdarah” tersebut. Ironis sekali saat hal tersebut dibandingkan dengan tragedi berdarah 1 juni 2008 di Monumen Nasional (Monas) kemarin. Entah moral kepemimpinan yang absurd atau justru memang rezim ini terlalu pengecut untuk mengakui ketololannya dan ketakutannya terhadap kekuatan modal?.
Sungguh-sungguh diluar dugaan. Ternyata yang bisa dilakukan oleh para pemimpin negara kita hanyalah mengalihkan isu sentral dengan kekerasan horisontal antara sesama rakyat. Alangkah memalukan.
Seharusnya kita bisa berkaca pada rakyat spanyol yang langsung melakukan boykot terhadap besar-besaran saat isu kenaikan harga BBM sampai ketelinga mereka. Insureksi dan kekuatan massa adalah senjata yang ampuh untuk membuktikan bahwa rakyat kembali berdaulat atas tanahnya sendiri.
Stay STRONG to say NO with this FUCKIN' system..
lets FIGHT..
Tuesday, June 3, 2008
Bangkit Melulu Gak Turun-Turun
Kebangkitan nasional ditandai dengan kebangkitan harga BBM..
4500 ---------------------------------------> 6000
Terima Kasih Wahai Presiden kami yang BODOH!!!

